Erza Rahmawan Dan SARA Di Dunia Sepakbola

Duel seru antara PERSIB vs PERSIJA tidak saja terjadi di dalam lapangan, di luar lapangan pun tidak kalah panasnya bahkan mungkin lebih panas di luar lapangan daripada di dalam lapangan itu sendiri. Fanatisme dari masing-masing suporter memang tak bisa dielakan dari kehidupan sepakbola di Indonesia. Dan masalahnya fanatisme yang berlebihanlah yang mengakibatkan citra sepakbola di Indonesia menjadi buruk.

Fanatisme yang berlebihan dapat dilihat pada kasus Erza Rahmawan. Setelah pertandingan bigmatch usai dia membuang unek-uneknya di dunia maya atau lebih tepatnya di salah satu layanan sosial media yaitu Facebook. Disana dia memyampaikan unek-uneknya sebagai berikut

emang dasar tim kampung , gol gol nya gk ada yg brmutu , ngapain pake sujud syukur sgala goNzalek , mualaf aja sok soan sujud , msuk islam cuma pngen ngentot sah doang ama istrinya . gk ada sejarah’a tim gw kalah di jakarta . Persib ANJING, Sunda haram, BDG kota jinah kena bnjir” sumber kata-kata ini bisa dilihat disini.

ketika melihat komentar ini, sungguh saya amat murka kepada saudara Erza, Jika hanya mengejek tim mungkin itu hal yang biasa dalam dunia persepakbolaan di dunia ini. Tetapi jika agama dan suku bangsa sudah dibawa-bawa itu menjadi hal yang sangat berbahaya.

Jika hal ini dibiarkan begitu saja, sepakbola yang seharusnya menjadi alat pemersatu bangsa karena didalamnya tidak ada unsur SARA, akan menjadi bumerang yang akan menjadikan alat pemecah bangsa itu sendiri. Dan jika hal ini terjadi sungguh ironis memang untuk dunia persepakbolaan.

Dan hal lain yang harus diperhatikan oleh kita semua ialah hati-hatilah jika kita ingin memberi komentar di dunia maya. Sudah banyak kasus di dunia maya ini yang menjadikan seseorang harus berurusan dengan pihak kepolisian. Teknologi internet yang semakin berkembang dari hari ke hari, jika kita salah menggunakannya akan menjadi bumerang untuk diri kita sendiri.

Jadi, mari kita jadikan ini sebagai pelajaran baru tentang etika ber-internet. Harus difikir masak-masak jika kita akan membuat komentar di dunia maya. Jika sedang emosi ada baiknya kita tidak membuat komentar apapun di dunia maya, karena hal ini bisa saja membuat masalah baru seperti kasus Erza ini.

Dan untuk kasus Erza ini ada baiknya juga jika kepolisian bersama PSSI turun tangan dalam masalah ini, ini supaya tidak ada lagi Erza-erza berikutnya. Jadikan ini kasus yang terakhir, adakan efek jera bagi pelaku Rasisme di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar sepakbola lebih bermutu dan asas Fair Play tetap berjalan dengan semestinya dalam dunia persepakbolaan. Sehingga sepakbola dapat dipandang bukan saja sebagai olahraga semata, tetapi sebagai alat hiburan baru yang bisa diikuti oleh semua kalangan.


About this entry